Minggu, 10 Oktober 2010

Terkait dengan menara Abraj Al Bait atau "Mecca Royal Clock Hotel Tower" yang diresmikan beberapa waktu lalu juga bermaksud menjadikan waktu Mekah Makkah Meam Time (MMT) seperti halnya Greenwich Mean Time (GMT). Demikian menurut Muhammad Al-Arkubi, General Manager Hotel tersebut dalam jumpa pers di Dubai.
Proyek Abraj Al Bait ini harus diakui merupakan kelanjutan dari konferensi internasional dua tahun sebelumnya, tepatnya 19 April 2008 di Doha, Qatar yang bertema “Mecca the Center of the Earth, Theory and Practice”. Sheikh Yusuf Qardawi, salah satu ulama terkenal dan bertindak selaku pembicara dalam konferensi tersebut menegaskan bahwa ilmu sains modern sekurangnya telah memiliki bukti bahwa Mekkah merupakan pusat bumi yang sebenarnya. Salah satu butir hasil konferensi tersebut adalah keputusan untuk merekomendasikan bahwa kota Mekkah harus dijadikan patokan waktu bagi umat Islam sebagaimana saat ini kota Greenwich menjadi patokan waktu GMT.
Buku Ka'bah Universal Time (KUT) dapat melengkapi literatur khasanah yang dapat digunakan untuk mendukung Makkah Mean Time (MMT). Tidak hanya itu, buku yang terdiri atas empat bab ini juga membahas lebih luas tentang masalah-masalah yang terkait dengan sistem tata waktu dalam Islam. Pada Bab I membahas tentang awal munculnya gagasan KUT. Pada Bab II dijelaskan mengenai konsepsi KUT, paradigma keterkecohan dan kembali kepada Kitabullah. Bab III membahas awal hari bagi umat Islam meliputi sistem almanak Masehi dan sistem almanak Hijriyah, mu’jizat Falaqiyah dan Imsyakiyah di balik peristiwa Hijrah, lalu pada Bab IV dijelaskan soal penampakan hilal terbaik dan penetapan awal hari atau awal bulan dalam sistem Hijriyah.
Buku KUT ini jelas perlu dimiliki dan dibaca oleh para pemerhati, pengamat, dan seluruh stakeholders yang terlibat dengan masalah penetapan waktu-waktu penting dalam Islam misalnya awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, tahun baru Islam, dan sebagainya yang selama ini sering menjadi sumber perbedaan di kalangan umat Islam.*** (Safril & Muntasir Alwy) (Bersambung 3)
Dari tesis itulah buku“Ka’bah Universal Time (KUT); Reinventing the Missing Islamic Time System” berangkat untuk mengangkat realitas yang ada dan berupaya membangun dasar pemikiran tentang urgensi Ka’bah sebagai patokan waktu. Ka'bah sebagai benchmark --dalam konteks Makkah Mean Time (MMT)-- dibangun oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya Ismail AS telah terbukti secara empiris sebagai poros bumi atau pusat magnetik bumi. Ruang atau tempat Ka'bah tersebut dibangun atas kehendak Allah SWT yang merupakan titik episentrum dan Baitul Makmur (tempat thawaf para malaikat ke Baitullah (tempat thawaf umat manusia).
Selama ini, umat Islam sebenarnya telah memiliki sistem tata-waktu sendiri yakni sistem almanak qomariyah-syamsiyah (lunar and solar system). Bagi ummat Islam, sistem almanak qomariyah-syamsiyah mengatur antara lain mengenai jumlah hari dalam setahun, jumlah 12 bulan dalam setahun dan satu pekan (week) yang terdiri atas 7 hari yang semuanya bukan karya manusia atau hasil rekayasa hasil perhitungan matematis-astronomis melainkan ketetapan Allah Yang Maha Memiliki Ilmu yang dapat pula ditemukan dalam Al Qur'an. Umat Islam di seluruh dunia mengakui keabsahan dan ketetapan (validity and applicability) sistem almanak syamsiyah yang membagi hari dalam setahun sebanyak 365 hari. Alasan kuatnya adalah dalil non-nalar karena terdapat 365 kata yaum (hari) dalam Al Qur'an.

(Bersambung 2)

Referensi buku di di tabloid jumat

RESENSI BUKU di “Tabloid Jum’at”

Judul Buku : KUT (Reinventing the Missing Islamic Time System)
Ka‘bah Universal Time – Penemuan-ulang Sistem Tata-waktu Islam yang Hilang
Penulis : Bambang E. Budhiyono
Jumlah Halaman : 125 hal.

KA'BAH UNIVERSAL TIME (KUT):
Gagasan Menjadikan Ka'bah sebagai Benchmark untuk Melestarikan Peradaban Ibrahim AS

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Artinya seluruh dimensi ruang dan waktu memiliki nilai yang sakral karena seluruh makhluk selalu bertasbih dan beribadah hanya kepada Allah SWT. Inilah salah satu kunci utama ajaran Islam yang diyakini merupakan ajaran final yang lengkap dan paripurna (syamil). Pertanyaannya adalah “apakah dalam seluruh dimensi ruang dan waktu dalam Islam yang bernilai sakral tersebut tidak ada sistem tata-waktunya sehingga lahir ide sistem tata-waktu hasil olah nalar manusia sebagaimana sistem tata-waktu Cina, Jepang, Hindu, Persia, maupun Masehi (GMT)? Mengapa sistem tata waktu Hijriyah yang merupakan almanak resmi umat Islam ‘tenggelam’ digantikan dengan sistem tata waktu yang lain dan kalau berlaku hanya menjadi salah satu sumber kontroversi perbedaan? Di mana sebenarnya patokan utama penetapan sistem Hijriyah saat ini? Masih banyak pertanyaan lain yang perlu segera mendapat rumusan jawaban sehingga umat Islam tidak lagi terjebak dalam labirin kebingungan massal.
Secara umum, argumentasi “kebenaran” konsepsi-konsepsi yang saat ini berkembang di masyarakat muslim dunia bersifat ilutif (konseptual) dan tidak aktual (realisme). Padahal, Ka'bah sudah berfungsi sebagai arah kiblat dan tempat thawaf dapat dipastikan bahwa Ka'bah juga merupakan sebagai benchmark dalam teks ayat "qiyaman linnas". Jika sebuah ide atau tesis lahir dari realita yang ada (Ka'bah), maka tesis tersebut bukan hasil olah nalar manusia melainkan hasil olah kesadaran (fitrah) dari realita yang ada sehingga konsepsi tersebut argumentasinya bersifat aktual (realistis). (bersambung 1)

Sabtu, 18 September 2010

TIPE MANUSIA DALAM BERAGAMA
Ada 4 (empat) tipe manusia dalam beragama:
(1) Tipe pertama: Mencari ketenangan atau pelarian dari rasa stress. Dan biasanya, tipe semacam ini sering mencari-cari figur dlm upayanya mencari ketenangan. Ketenangan pun segera diperoleh ketika ia telah menemukan figur yg sesuai, pas dgn keinginannya. Apakah Islam membenarkan tipe manusia semacam ini dan cara-cara yang ditempuhnya?
(2) Tipe kedua: Mencari uang (harta). Ada titik temu atau simbiosis mutualism antara tipe pertama dgn tipe kedua; yg pertama mencari ketenangan, yaitu mencari figur, sedangkan yg kedua mencari uang, yaitu menjadikan dirinya sebagai figur. Jadi, bukannya Rasulullah saw yg dia jadikan figur, tetapi dirinya.
Syaikhul-Islam Muhammad bin 'Abdul-Wahhab berkata tentang tipe kedua ini: "Innad-Da'iya Idza Da'an-Nasa Fahuwa Yad'u Ila Nafsihi" (Para Da'i, pada umumnya ketika ia menyeru manusia, ia menyeru mereke kepada --kepentingan-- dirinya); yaitu harta, populari tas, ngetop dll. Apakah Islam membenarkan tipe manusia seperti ini dan cara2 yg ditempuhnya?
(3) Tipe ketiga: Mencari pembenaran. Tipe semacam ini menjadikan agama sebagai alat legitimasi segala tindakan2nya. Ia meyakini sesuatu berdasarkan sudut pandangnya, lalu mencari-cari dalil (ayat atau hadits) utk membenarkan pandangannya. Dan baginya tdk ada org yg benar selain dirinya atau kelompoknya.
Syaikh 'Utsaimin telah mengkritik cara beragama tipe ketiga ini, beliau berkata:"La Ta'taqid Tsumma Tastadil, Fatadhillu" (Janganlah engkau meyakini sesuatu lalu men-cari2 dalil --utk. membenarkannya--,karena --dgn cara seperti itu-- engkau akan tersesat). Apakah Islam membenarkan tipe manusia seperti ini dan cara2 yg ditempuhnya?
(4) Tipe ke-empat:Mencari kebenaran. Tipe ke-empat ini selalu berusaha memperbaiki pemahaman, amal dan perbuatan sesuai dengan A-Quran dan As-Sunnah. Prinsipnya: "Fa'alaika An-Ta'rifal-Haqqa Bidalilihi La Bi Qa-ilihi"; artinya:"Wajib bagi-mu utk mengetahui kebenaran (al-haq) berdasarkan dalilnya, bukan siapa yg mengatakannya".
Syaikh 'Utsaimin mengatakan bila kita ingin memilih tipe ke-empat, yaitu mencari kebenaran:"Istadil Tsumma'-Taqid";artinya:"Kaji dalilnya, lalu yakini". Maka, tipe ke-empat ini selalu berusaha, ber-sungguh-sungguh mengkaji, mempelajari ilmu agama serta medalaminya. Inilah cara beragama kaum Salaf. Sekarang, terserah kepada kita masing-masing jalan manakah akan kita pilih?
Bersyukur Dengan Hati
Bersyukur (menghargai nikmat) dengan hati. Imam Ibnul-Qayyim mengistilahkannya dengan "Al-I'tirafu Biha Bathinan"; artinya: "Mengakui nikmat tersebut secara batin". Maksudnya, hatinya benar-benar mengakui bahwa nikmat itu se-mata-mata pemberian Allah. Bersyukur dengan hati lebih sulit daripada bersyukur dengan lisan/ucapan.
Rasulullah saw telah memerintahkan hal ini, sabda Beliau: "Liyattakhidz Ahadukum Qalban Syakiran.."; artinya: "Hendaklah tiap seseorang diantara kalian --berusaha-- membuat hatinya selalu bersyukur...". Bagaimana petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. untuk. membuat hati selalu bersyukur kepada Allah?

Bersyukur dengan hati atau membuat hati selalu bersyukur kepada Allah, dilakukan dengan 2 (dua) cara:
PERTAMA: Selalu mengingat nikmat Allah, terutama sekali nikmat Al-Quran dan Hikmah, sebagaimana firman Allah: "Wadzkuru Ni'matallahi 'Alaikum Wa Ma Anzala 'Alaikum-minal-Kitab Wal-Hikmah Ya'izhukum Bihi".

artinya: "Dan ingatlah selalu akan nikmat Allah, dan juga apa yang Dia turunkan untuk kalian dari Al-Kitab (Al-Quran) serta Hikmah; yang dengannya (Al-Quran), Dia memberi nasehat kepada kalian" (Surah Al-Baqarah :231). Adapun yang dimaksud "Hikmah" ialah: Perkara yang benar dan lurus, keadilan, pengetahuan dan sikap santun. Ayat ini menyatakan bahwa Al-Quran dan Hikmah adalah nikmat yang besar yang harus selalu diingat.

Ibnu Hajar mengatakan: Mengingat ayat-ayat Allah dan nikmat-nikmat Allah akan melahirkan 4 (empat) sikap utama:
(1) Tauhid; yaitu percaya sepenuhnya terhadap ke-Esaan Allah dalam. Dzat, Perbuatan dan Sifat; tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya
(2) Keyakinan; yaitu yakin terhadap semua janji-janji Allah
(3) Rasa Cinta kepada Allah, dan
(4) Perasaan bersyukur atau kesyukuran hati.

KEDUA: ialah dengan memperbanyak berdzikir; yaitu mengingat dan menyebut nama Allah; sebagaimana firman-Nya: "Fadzkuruni Adzkurkum, Wasy-Kuruli Wa La Takfurun"; artinya: "Maka berdzikirlah (ingatlah) kalian kepada-Ku, maka Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada.-Ku, dan jangan mengingkari --nikmat--Ku. (Surah Al-Baqarah:152).
Disebutkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allah: "Wahai Rabb-ku, bagaimanakah cara aku bersyukur kepada Mu". Maka Allah SWT menjawab:"Tadzkuruni Wa La Tansani, Fa-Idza Dzakartani Faqad Syakartani, WA Idza Nasitani Faqad Kafartani"; artinya: "Berdzikirlah (Ingatlah) engkau senantiasa kpd.-Ku; jangan engkau lalai (lupa) dari –mengingat-Ku.
maka jika engkau senantiasa berdzikir kpd.-ku; berarti engkau bersyukur kepada-.Ku; dan jika engkau lalai (lupa) dari --mengingat--Ku, maka berarti engkau mengingkari --nikmat--Ku. Jadi, banyak berdzikir kepada Allah akan mendorong hati bersyukur kepada nikmat Allah. Inilah pengikat nikmat yang kedua; bersyukur dengan hati.
Nabi saw. menunjukkan cara menjaga hati agar tetap mensyukuri nikmat Allah; sabda Beliau: "Idza Nazhara Ahadukum Ila Man Fudhdhila 'Alaihi Fil-Mal Wal-Khalq, Fal-yanzhur Ila Man Huwa Asfala Minhu"; artinya:"Jika seorang dari kalian melihat orang lain yang diberi kelebihan dalam harta dan ketampanan,maka hendaklah ia melihat orang yang dibawahnya" (H.R. Mulim).

Dalam hadits lain, sabda Nabi saw:"Fahuwa Ajdaru An-La Tazdaru Ni'matallahi 'Alaikum" artinya: "Maka --melihat orang yang di bawah kalian-- merupakan sikap yang tepat untuk tidak meremehkan nikmat Allah pada Kalian" (Muttafaqun 'Alaih). Yang dimaksud "melihat orang yang di bawah" ialah: "Org yang kondisi ekonomi berada dibawah kita, lebih susah dari kita, banyak mendapat cobaan seperti: sakit, cacat fisik, buta dsb."

"Dan jangalah engkau tujukan pandangan mata-mu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan Dunia,agar Kami uji mrk. dengan kesenangan itu. Karunia Rabb-mu lebih baik dan lebih kekal" (Surah Thaha ayat 131).

Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi: "An-Nazharu Sahmun Min Sihami Iblis, Wa Man Tarakahu Makhafati Abdaltuhu 'Ibadatan Yajid Halawataha"; artinya: "Pandangan (mata) merupakan panah dari panah-panah Iblis yang beracun. Dan siapa-saja yang meninggalkannya --tidak mengikuti dorongannya-- karena merasa takut kepada-Ku (Allah), maka Aku akan memberi ganti untuknya dengan ibadah (ketaatan) yang ia dapat merasakan manisnya --ketaatan –“
Bersyukur Dengan Perbuatan
Bersyukur (menghargai nikmat) dengan perbuatan; Ibnul-Qayyim mengatakan ada 2 cara menghargai nikmat dgn perbuatan; pertama: menceritakan nikmat tersebut, dan kedua: menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang diridhai Allah. Yang pertama dalilnya surah Adh-Dhuha ayat 11: Wa Amma Bini'mati Rabbika Fahaddits;artinya: "Adapun dengan nikmat Rabb-mu, maka ceritakanlah".

Menceritakan nikmat Allah ialah dalam rangka ingin berbagi bukan untuk pamer atau riya. Dan yg kedua dalilnya surah Al-Qashash ayat 77: "Wab-taghu Fima Atakallahud-Darul-Akhirah Wa La Tansa Nashibaka Minad-Dun-ya"; artinya: "Dan carilah dengan apa yang Allah anugerahkan kepada-mu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu lupakan bagian-mu dari (kenikmatan) dunia.

Ayat ini dengan jelas memerintahkan menggunakan potensi-potensi nikmat yang Allah berikan, seperti harta, kesehatan, ilmu dsb untuk mencari kebahagiaan akhirat, bukan untuk mencari kesenangan dunia; namun ayat ini juga mengingatkan untuk tidak melupakan bagian kenikmatan dunia, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang dihalalkan oleh Allah. Dan orang yang menggunakan potensi-potensi nikmat untuk mencari akhirat akan memperoleh keutamaan yang luar-biasa.

Nabi saw bersabda: "Wa Man Kanatil-Akhiratu Niyatuhu Jama'allahu Lahu Amrahu, Wa Ja'ala Ghinahu Fi Qalbihi, Wa Atathud-Dun-ya Wa Hiya Raghimatun"; artinya: "Siapa-saja yang niatnya mencari akhirat,maka Allah akan menyelesaikan semua persoalannya, dan menjadikan kekayaan di hatinya; dan Dunia pun akan datang kepada.nya dengan menunduk". (H.R. Ibnu Majah).

Inilah makna bersyukur atau mensyukuri (menghargai) nikmat yang sesungguhnya; dengan lisan, hati dan perbuatan. Ibnul-Qayyim berkata: "Fa-idza Fa'ala Dzalika Faqad Syakaraha"; artinya: "Siapa-saja yang telah melakukan -- ke-3 (tiga) hal-- ini, maka ia benar-benar telah bersyukur".

Dan dengan bersyukur seperti ini, segala nikmat yang dimiliki akan terjaga, tidak akan lepas, bahkan akan semakin bertambah. Inilah yang dimaksud dengan: La-in Syakartum La-azidannakum" (Surah Ibrahim ayat 7); artinya: "Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah --nikmat-- untuk kalian.

Disamping bersyukur kepada Allah, kita juga diperintah untuk bersyukur kepada manusia; yaitu menghargai jasa atau perbuatan oranglain terhadap kita. Sabda Nabi saw.: "Man Lam Yasykurin-Nasa Lam Yasykuril-Laha"; artinya: "Siapa-saja yang tidak bersyukur --menghargai-- manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah".

Dalam hal ini kita bisa menyaksikan dan mencontoh Rasulullah saw; betapa Beliau sangat menghargai manusia, khususnya para sahabatnya yang setia. Dan Beliau saw melarang siapa pun mencaci sahabatnya, sabda Beliau: "La Tasubbu Ash-habi"; artinya: "Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Sekian (Wallahu A'lam)
Kematian
Kata Mati atau Kematian berasal dari bahasa 'Arab; yaitu Mata-Yamutu yang maknanya: "Firaqur-Ruh 'Anil-Jasad" (Berpisahnya ruh dari tubuh). Islam menegaskan bahwa kehidupan dan kematian mutlak milik Allah; berada di bawah ketentuan Allah, sesuai dengan dua Nama-Nya "Al-Muhyi Wal-Mumit": Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.

Mati; berpisahnya ruh dari tubuh adalah peristiwa besar yang akan dialami oleh semua makhluq hidup, sebagaimana firman-Nya: "Kullu Nafsin Dza-iqatul-Maut"; artinya: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian" (Surah Ali 'Imran ayat 185). Jadi, bagi kita yang masih hidup saat ini, hanya menunggu waktu giliran saja. Dan giliran itu pasti kan datang.

Nabi Muhammad saw menasehati kita agar selalu ingat akan kematian; Beliau bersabda: "Aktsiru Hadzimil-Ladzdzat:Al-Maut"; artinya: "Sering2lah kalian mengingat hal yang memutus kelezatan --Dunia-- yakni maut (kematian)" (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah). Hadits ini menyebutkan bahwa kematian membuat hilang seluruh kenikmatan Dunia.

Islam tidak pernah mengajarkan menghindari kematian, karena kematian memang tidak bisa dihindari, tetapi Islam mengajarkan untuk selalu bersiap menghadapi kematian, Nabi saw bersabda: "Al-Kayyisu Man Dana Nafshu Wa 'Amila Lima Ba'dal-Maut"; artinya: "Orang yang cerdas, ialah yang mampu menundukkan nafsunya, dan selalu melakukan --persiapan-- 'amal untuk.--menghadapi --resiko yang datang-- setelah kematian". HR Ahmad

Nabi Muhammad saw menggambarkan "kematian" sebagai sebuah perjalanan yang berat dan jauh; yaitu perjalanan menuju akhirat. Sabda Beliau kepada Abu Dzar: "Ya Aba Dzar, Jaddidis-Safinata Fa-Innal-Bahra 'Amiqun Wa Khudziz-Zada Kamilan Fa-Innass--Safara Ba'idun";artinya: "Ya Abu Dzar, pugarlah perahu-mu, karena lautan sangat dalam, dan bawalah bekal yang sempurna karena perjalanan sangat jauh...".

Para 'Ulama mengatakan yang dimaksud dengan "perahu" adalah niat dan yang dimaksud "bekal sempurna" adalah amal-shalih. Jadi, hadits ini memerintahkan untuk selalu memperbaiki niat agar selalu ikhlas kepada Allah, dan juga mengunakan kesempatan untuk melakukan amal shalih, meskipun sedikit. Nabi saw bersabda: "Akhlishil-'Amal Yajzika Minhul-Qalil"; artinya: "Ikhlaslah dalam. beramal,maka amal yang sedikit dapat mencukupi-mu".

Sehubungan dengan ini Nabi saw bersabda: "La Tahqiranna Minal-Ma'rufi Syai-an Wa Law An Talqa Akhaka Bi Wajhin Thalqin"; artinya: "Janganlah kamu menganggap sepele perbuatan baik yang sedikit; meskipun hanya memperlihatkan senyum ketika berjumpa dengan saudara-mu"(H.R. Ahmad, Muslim & At-Tirmidzi). Subhanallah alangkah sempurnanya Islam; sehingga masalah "senyum" pun mendapat perhatian dan menjadi anjuran.

Sumber Kajian Ahad Pagi oleh Bang Deby